Awal Kisah Abu Terpilih

June 24th, 2008 by abu-syauqi

Mungkin Sobat semua sudah lihat berita klo abu baru tahu shubuh
menjelang deklarasi, bahwa abu dicalonkan mendampingi DR.
Taufikurahman..

nah, abu akan cerita bagaimana awal kisahnya

jadi
ceritanya, waktu itu 3 minggu sebelum deklarasi, abu sudah mendengar
bahwa abu akan mendampingi DR. Taufikurahman. masih isu sih.. tapi isu
nya dari orang yg bisa di percaya, hehehe,, sama aja dong..

singkat
cerita abu langsung melayangkan surat pengunduran diri sebagai balon
wakil walikota… ini adalah surat pengunduran diri abu ke 3 klo nggak
salah, setelah sebelumnya menyatakan mundur untuk di calonkan menjadi
calon walikota. soalnya, sebelumnya malah ada isu yang lebih parah: abu
dicalonkan menjadi walikota. nah loh..

kenapa abu menolak (melayangkan surat pengunduran diri)?
ada
beberapa alasan. pertama, tentu saja amanah dari kekuasaan itu sangat
besar dan berat. bagaikan berdiri di sebuah jembatan, di sebelah kiri
kita neraka dan di sisi lain surga, bisa di bilang benar benar rentan
dan tipis antara surga dan neraka dengan amanah sebesar ini. alasan ke
dua, abu sudah memiliki amanah yang sangat besar, dengan memimpin usaha
usaha abu (juragan kambing), menjadi pembina di Organisasi Sosial Abu,
menjadi Ketua IKADI (ikatan Dai Indonesia)

mungkin karena abu
selalu mengundurkan diri kali ya, makanya di kasih tau-nya mendadak
biar nggak ada kesempatan mengundurkan diri gitu, hehehe.. koq ke GR an
sih. baru  di kasih tau 4 jam menjelang deklarasi!!! gimana nggak
stress..

nah, tapi, bagaimanapun, ini keputusan jamaah. abu
sebagai eksternal Partai dan DR. Taufikurahman sebagai kader partai,
insya Allah akan amanah dan berjuang semaksimal kami dalam mencapai
capaian kami.

terima kasih, mohon doa dan dukungannya ya…
vote Taufikurahman- Deni Triesnahadi (abu syauqi)
visit
www.denitriesnahadi.multiply.com
www.triesnahadi.wordpress.com

Globalisasi= Menyikapi Perubahan, Siapkan Pertahanan

June 24th, 2008 by abu-syauqi
 

Harga minyak dunia yang
kian meningkat, revolusi era informasi yang kian dahsyat, gelombang
mobilitas sosial yang menguat, isu resesi ekonomi global yang juga
menyeruak menyebabkan banyak diantara kita yang menggugat.

 

 

 

Menggugat tentang hidup yang terasa sema­kin sulit, menggugat karena persaingan menuntut resolusi diri yang rumit. Menggu­gat, menggu­gat, dan menggugat sekaligus juga berharap cara dan jalan penyelesaian yang tepat.

 

 

 

Menggugat dalam konteks kesadar­an
tentang diri kita yang perlu banyak perbaik­an menyangkut seluruh aspek
sebagai seorang individu, itu perlu! Yang harus dijalani selan­jutnya
adalah bagaimana kita mena­paki setiap tahapannya sehi­ng­ga bisa
berhasil, sukses, menjadi pemenang, atau apa pun istilahnya, yang
jelas: bertahan.

 

 

 

Ilmu,
ilmu adalah kunci per­tama bagi kita un­tuk menyi­bak tirai pembatas
antara kita dengan dunia luar yang bergerak begitu revolutif bah­kan
bisa dika­takan radikal, karena setiap detik peru­bahan (secara fisik
material maupun pemi­kiran) terjadi dengan pasti.

 

 

 

Dengan
ilmu kita akan memiliki wawasan dan cara pandang luas — tidak melulu
terkung­kung dalam persoalan pribadi yang sesungguh­nya proporsinya
relatif kecil — yang akan menghasilkan kemampuan untuk menyikapi semua
tantangan sesuai dengan kadar dan kon­teksnya, apa pun itu.

 

 

 

Usai
kita ‘awas’ akan apa yang terjadi pada diri dan dunia dengan semua
kompo­nennya maka saatnya untuk mulai memahami. Mulai dari memahami
posisi diri kita sekarang, apa yang sudah dicapai, apa yang menjadi
harapan ke depan, potensi apa saja yang telah – akan – dan harus
dimi­liki untuk mewujudkan semua visi dan cita-cita tadi. Berawal dari
sini kita dapat me­rintis proses menggambar vision board, yang di
dalamnya memuat berbagai visi dan cita dalam rentang waktu lebih
mengerucut sesuai dengan ‘tera­wang’ kita bagaimana seharusnya keadaan
di masa depan.

 

 

 

Pengorganisasian
adalah tingkat selanjutnya dimana kita merajut semua teori, konsep,
serta pemetaan yang telah dibuat di dua tahapan sebelumnya.
Pengorganisasian yang baik akan menghasilkan gerak dan langkah terpadu
serta membuat kita tetap berada dalam koridor yang akan mengarahkan
pada pencapaian tujuan. Satu hal yang penting untuk diingat adalah
komit­men untuk menjalani prosedur yang sudah menjadi panduan baku
dalam organisasi yang kita bangun. Misalnya saja bagaimana mekanisme
dan komitmen kita dalam penggunaan dana pribadi, maka setiap pos harus
senantiasa terisi sesuai dengan rencana peruntukkan­nya. Dalam prinsip
saya, jangan terlalu mento­lerir banyak pengeluaran insidental, karena
di kemudian hari saat untuk mela­kukan hal ini akan datang dengan
sendirinya.

 

 

 

Tahapan
lain yang harus diingat adalah tentang mengisi ulang energi. Mengubah
(yang sudah ada) dan berubah (menjadi lebih baik) adalah sesuatu yang
memerlukan banyak tenaga, energi, dan waktu yang luar biasa. Maka
men­gisi ulang energi adalah sesuatu yang pasti, kita harus cari semua
sumber yang senantiasa memberikan pen­ce­rahan sebagai motor penggerak
mesin perju­angan. Allah dan kedekatan kita pada-Nya ada­lah bensin
dahsyat yang dapat mem­buat kita bertahan menjalani semuanya.

 

Ka­rena kesuksesan bukanlah hal yang sulit, na­mun juga tak semudah kita membayang­kannya.

 

 

 

InsyaAllah kita bisa!!!

   

Produktifitas, Identitas Bangsa yang lama terpendam

June 24th, 2008 by abu-syauqi

Penggalan awal

surat

Al Mu’minun merupakan kalimat-kalimat yang luar biasa dahsyat (yang
setiap kita sangat mungkin menilai dan memaknainya berbeda, termasuk
saya). Dikupas dalam ayat-ayat mulia itu tentang sungguh berun­tung,
sungguh menang, sungguh sukses orang-orang yang beriman atas
produktivitas yang dijalaninya.

 

 

 

Seperti
apakah rupanya orang-orang ber­iman ini? Adalah mereka yang
mendapat­kan energi produktivitas dalam sholat-sholat yang
didirikannya. Sholat menjadi utama karena dari rangkaian sholat ini
Rasulullah saw dan para shahabat serta tabiin dan salafusholeh
mendapatkan rehat dari kompleksitas dunia yang tengah dija­laninya.
Maka bekerja, berbuat, melaku­kan, semuanya memenuhi kriteria
produk­tivitas.

 

 

 

Banyak
dari kita yang sering terpaku pada statement yang menyatakan bahwa
seper­tiga kekayaan dunia ada di tangan segelin­tir orang saja.
Pemahaman akan kalimat ini seringnya menjadi penghambat pro­duk­tivitas
mereka yang belum mendapat suntikan vaksin produktivitas, yang bisa
didapatkannya dari pelaksanaan sholat yang khusyu. Khosyi’un yang
disebut da­lam ayat kedua QS. al-Mu’minun maknanya bukan hanya
melibatkan pikiran, melain­kan menjadikan sholat sebagai rangkaian
dialog dengan Sang Penggenggam jiwa manusia.

 

 

 

Ketika
khusyu telah didapat, maka momen­tum duduk diantara dua sujud pun akan
menjadi detik-detik yang teramat sangat berharga, pada intinya menjadi
energi untuk produktif. Dalam jenak duduk di antara sujudnya seorang
mu’min sejati akan menjiwai skenario peran yang ia mainkan dengan
meyakini bahwa: Allah akan mengampuni, Allah akan menyaya­ngi, Allah
akan memenuhi segala (hajat), Allah akan memberi hidayah, dan Allah
akan menjadikan kaya – sejahtera.

 

 

 

Maka
sholat-sholat kita akan menjadi magnet dahsyat yang mendatangkan energi
untuk berbuat lebih banyak dalam kehidup­an. Tidak ada teladan yang
jauh lebih baik dibandingkan Rasulullah saw. Usai sholat-sholat Rasul
yang antara berdiri, ruku, dan sujudnya sama-sama panjang, ia
menyebarkan semangat produktivitas pada lingkungan sekitar. Strategi,
teknik manajemen, hingga visi tentang penyebar­an Islam hingga ke
berbagai belahan dunia menjadi produk manusia mulia ini didampingi
orang-orang mu’min lain yang meneladani sikap dan perilakunya.

 

 

 

Standar
dan parameter kejayaan Islam sebagai cermin pola produktivitas umatnya
terlihat hingga jauh setelah kepergian baginda Nabi. Sudahkah kita
menggali lagi harta Islam yang telah lama terpendam ini …?#

Ciptakan Lingkungan Kerja yang Menguatkan Keimanan

June 24th, 2008 by abu-syauqi
 

Kemajuan
tidak akan datang dengan sendirinya dihadapan kita, perlu usaha dan
kerja keras untuk mewujud­kannya. Setidaknya ada 3 komponen tonggak
kemajuan ummat :

 

 

 

Pertama,
Al Iman Al-amiiq : Keimanan (Ke­ya­­kinan) yang Mendalam. Sebuah
komuni­tas atau perusahaan akan menga­lami kemaju­an besar manakala
semua SDM yang ada dida­lamnya memiliki keyakinan yang mendalam.

 

 

 

Bagi Muslim, prinsip ini erat kaitannya dengan aqidah sedang dalam konteks bis­nis profesional ”keyakinan” adalah visi
dan knowledge. Ketika semua elemen ang­gotanya memiliki kemantapan
orientasi dan wawasan memadai sesuai dengan peran dan fungsi yang
diamanahkan kepadanya maka satu tonggak kemajuan bagi komu­nitas
tersebut sudah terpancang.  

 

 

 

Ilmu
pengetahuan dan keluasan wawasan sangat membantu ketajaman analisis
atas fakta-fakta yang terjadi sehingga membe­rikan nilai lebih pada
kemampuan mem­prediksi masa depan. Krisis ekonomi yang menimpa Amerika
misalnya, banyak peng­amat sudah mem­prediksikannya semenjak awal abad
19 lalu, dan realitasnya krisis itu benar-benar terjadi. Tidak perlu
dukun untuk meramalkan kondisi ini. Kesalahan manusia adalah tidak
mampu melihat gejala yang terjadi di dunia dan mengikuti ayunan­nya. Informasi
adalah yang utama dalam peperangan siapa yang mampu melihat dan
mengantisipasi akibat dari informasi yang akurat. Keyakinan yang kuat
terlahir dari pengetahuan yang memadai.

 

 

 

Kedua, Almatin Alhuluq : Keluhuran Budi. Tonggak
selanjutnya dalam mewujudkan kemajuan ummat adalah faktor keluhur­an
budi, kesalehan sosial yang harus dimi­liki setiap elemen yang terlibat
didalam­nya. Keluhuran budi ini akan melandasi interaksi para
anggotanya sehingga produktivitas yang tinggi juga tercapai dengan pola
interaksi yang baik.

 

 

 

Kelu­hur­an
budi akan menghilangkan pra­sangka yang tidak perlu ketika menjalan­kan
tugas masing-masing. Tumbuhnya rasa saling percaya yang tulus dan
ketegu­han menjaga kepercayaan yang diberikan mitra kerjanya dalam
mencapai tujuan bersama.

 

 

 

Ketiga, Assihat Al-iqtishadiyah : Kesehat­an Finansial. Faktor
finansial meme­gang peran­an penting dalam menopang kema­ju­an ummat.
Ketika sebuah komunitas menga­lami gangguan signifikan dalam kondisi
finansial maka usaha mencapai kemajuan akan terhambat.

 

 

 

Sudah
menjadi rahasia bersama jika setiap karya yang dilahirkan harus
didukung kekuatan finansial untuk menjalankannya. Finansial bukan yang
utama tapi kita tidak bisa mengecilkan peran yang dimilikinya. Melihat
pentingnya peran tersebut sudah selayaknya bagi mereka yang
menginginkan kemajuan harus memiliki pengelolaan finan­sial yang juga
baik. Kesehatan finansial tidak identik dengan berlimpah, tapi
bagaimana kita mengoptimalkan nilai dari sumberdaya finansial kita
untuk mencapai kemajuan. Bisa saja sebuah rencana kerja yang didu­kung
kekuatan finansial melimpah akan gagal mencapai tujuannya, yang penting
dalam pengelolaan keuangan adalah penen­tuan prioritas pembiayaan guna
mencapai tujuan yang ditetapkan.

 

 

 

Ketiga
tonggak kemajuan ummat ini harus dijalankan secara terintegrasi tanpa
meng­abaikan satu tonggal lainnya. Saatnya kita mulai dari lingkungan
terdekat termasuk dalam usaha kita. Mari ciptakan lingkungan kerja yang
produktif dan semakin mampu menguatkan keimanan.#

   

Pemimpin yang Profesional, bukan Senioritas..

June 24th, 2008 by abu-syauqi

Sebelum Rasulullah wafat, beliau telah mengangkat
Usamah Bin Zaid yang ketika itu berusia 17 tahun untuk memimpin pasukan
Muslim menghadapi kaum kafir. Padahal dibela­kang Usamah berdiri
sahabat-sahabat utama Rasulullah yang sudah

malang

melintang menemaninya berjuang menegakan agama Islam. Tapi amanat
panglima perang Rasulullah berikan kepada seorang pemuda pemberani,
Usamah.

 

 

 

Ketika Rasulullah wafat dan Abu Bakar didaulat untuk menjadi Khalifah. Dalam suasana Umar r.a
mengajukan usul (dalam terjemahan bebas) “Ya Amiral Mu’mimin, Usamah
ini masih terlalu muda untuk memimpin pasukan perang, dia belum banyak
berpengalaman mem­bawahi pasukan sebanyak ini. Bagaimana kalo kita
ganti saja Usamah ?” ujar Umar r.a. “Kuburan Rasullullah masih basah,
apakah engkau sudah berani mencabut ketetapannya?” jawab Abu Bakar
berang. Umar pun segera beristighfar, memohon ampunan kepada Allah SWT.

 

 

 

Ketika pasukan mau berangkat menuju

medan

perang, Abu Bakar maju ke depan barisan menghampiri Usamah yang sudah siap berangkat. “Wahai
Usamah, bolehkah aku meminta fulan, fulan tidak ikut berpe­rang bersama
engkau. Saya membutuh­kannya untuk membantu mengurusi umat di sini,”
pinta Abu Bakar. “Jangan meminta begitu Amirul Mu’minin, engkau punya
hak untuk memerintahkan orang-orang tersebut untuk tinggal bersamamu di
sini,” jawab Usamah penuh hormat.

 

 

 

Penggalan
sirrah nabawiah ini sengaja saya sajikan sebagai pembuka dengan tujuan
untuk menunjukan bahwa betapa sahabat Rasul yang utama memiliki jiwa
profesionalitas yang tinggi, mengesam­pingkan senioritas yang sudah
terbentuk sebelumnya. Profesional didefinisikan sebagai kemampuan
menangani amanah, pekerjaan yang dibebankan kepada sesesorang dengan
berlatar belakang ilmu dan kapasitas yang dimilikinya.
Tanpa melihat usia atau lama dia bekerja pada sebuah perusahaan.

 

 

 

Profesionalitas ini menjadi kata kunci bagi siapa pun atau perusahaan apa pun yang ingin maju. Tanpa
sikap ini seorang karya­wan atau enterpreneur tidak akan memperoleh
kemajuan berarti. Seorang karyawan yang dengan bangganya mengatakan :
“Saya masuk lebih dulu di perusahaan ini ketimbang Anda, jangan harap
Anda bisa melampaui saya dalam berkarir di sini.” Tanpa ada peningkatan
kemampuan dan kapabilitas pribadinya, dia akan tergerus dari persaingan
kerja di perusahaan profesional, jauh ditinggal­kan junior-juniornya
yang memiliki kemampuan sesuai dengan perkembang­an perusahaan.

 

 

 

Kenapa
sikap profesionalitas ini penting? Karena dunia usaha akan terus
berkem­bang dengan tantangan-tantangan yang lebih kompleks. Tanpa
dibarengi dengan peningkatan kemampuan para pelaku usahanya maka jangan
heran perusahaan-perusahaan yang mengesampingkan profesionalitas akan
tersisih dari persaingan usaha dunia profesional.

 

 

 

Sekali lagi, terapkan profesionalitas bukan senioritas.#

Catatan Seorang Blogger

June 24th, 2008 by abu-syauqi
   

Alhamdulillah wassholatuwassalam ‘ala rosuulillah

Tadi abu liat liat blognya pakt aufikurahman. ada tulisan yg menurut abu sih bagus, hehe.. check this out.. ini link nya
www.ardee.cmsku.org

Taufikurahman-Abu Syauqi untuk Kota Bandung

Kemarin
adalah hari yang bersejarah buatku. Pertama, karena kemarin adalah hari
deklarasi pasangan Calon Walikota-Wakil Walikota Bandung yang diusung
oleh PKS. Kedua, karena ada ‘deklarasi yang lain’ di GOR Citra Arena
Cikutra itu (*halah* deklarasi…). Hmmm… kita simpan saja dulu ceritanya
untuk nanti. Yang terpenting adalah moment utama dari kehadiran kader
dan simpatisan PKS disana, yaitu pengumuman siapa yang akan mendampingi
Dr. Taufikurahman sebagai Calon Wakil Walikota Bandung periode
2008-2013.

Saya yakin tidak hanya
saya yang berdebar-debar menanti siapakah orangnya yang akan mengemban
amanah berat sebagai Cawawalkot PKS tersebut. Format acara pun bisa
dikatakan agak diplot surprise. MC yang berada didepan membuat para
hadirin penasaran dan menerka-nerka siapa orangnya. Saat MC menunjuk
kearah audience tersebut, beberapa ‘cawawalkot bayangan’ terlihat
melambai-lambai dari beberapa sisi, membuat audience semakin penasaran.
Beberapa saat kemudian akhirnya barulah MC mengumumkan nama Dedi
Triesnahadi atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Syauqi. Takbir segera
bergemuruh memenuhi ruangan GOR.

Setelah
penantian dan musyawarah yang alot di internal partai ini, akhirnya
terpilihlah ustadz Abu Syauqi pada dini hari, tanggal 22 Juni 2008.
Yang bersangkutan pun cukup kaget saat menerima telepon dari Pak Haru
(Ka DPD PKS Bandung). Meskipun secara resmi mengundurkan diri sebagai
simpatisan beberapa waktu sebelumnya, ternyata tidak menghalangi
musyawarah untuk menetapkan pendiri rumah zakat ini sebagai pendamping
pak Taufik. Satu hal inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan
barisan PKS. Mereka bukan memilih orang-orang yang bernafsu menggapai
kekuasaan dengan cara apapun, melainkan figur tawadhu yang secara
individu menolak kekuasaan tersebut namun jika ternyata kehendak
jama’ah ini menentukan dirinya harus mengemban amanah tersebut, maka ia
dengan lapang dada siap mengemban amanah tersebut.

Saya
pribadi melihat kombinasi Taufikurahman dan Abu Syauqi merupakan
perpaduan yang tepat. Dr Taufik dengan latar belakang kepakaran dan
Akademisinya cocok menjadi figur konseptor kebijakan. Disamping itu,
eksistensinya sebagai seorang blogger juga menjadi nilai lebih dalam
masalah kritisisme dan kepekaan terhadap fenomena sosial yang ada dalam
masyarakat. Adapun Abu Syauqi dengan latar belakangnya sebagai pendiri
Rumah Zakat adalah sosok praktisi di bidang sosial kemasyarakatan.
Pengalamannya dalam mengemban amanah pengelolaan dana umat bagi saya
pribadi merupakan jawaban dari masalah korupsi yang selama ini telah
mengakar di birokrasi kita. Konsep yang dibawa islam dalam pengelolaan
dana umat semoga juga dapat diaplikasikan dalam pengelolaan APBD kota
Bandung, sehingga masyarakat bisa lebih merasakan secara utuh alokasi
anggaran tersebut.

Menyoroti kedua
figur ini, kita juga akan menemukan bahwa mereka berdua berasal dari
komunitas yang memegang nilai keagamaan secara kuat. Pak Taufik
menghabiskan masa kuliah S1 dan S2 di lingkungan masjid Salman. Sebuah
masjid yang dicatat sejarah sebagai masjid kampus pertama dan serta
pembinaannya yang fenomenal dalam event LMD (Latihan Mujahid Dakwah)
yang telah melahirkan tokoh-tokoh nasional sekelas Al-Hilal
Hamdi (mantan Menaker), Hatta Radjasa (Menristek), Husni Thamrin
(anggota DPR dari Golkar), Irfan Anshari (anggota DPRD Jabar), Alimin
Abdullah (Bendahara PAN) dll. Selain itu beliaupun sejak dekade ‘90-an
telah dikenal di komunitas ISNET, komunitas netter tertua indonesia
yang banyak berisi aktivis muda islam. Sedangkan Ust. Abu Syauqi sejak
1998 telah dikenal sebagai seorang dai muda bandung. Ia bersama dengan
pengajian majlis ta’lim Ummul Quro berinisiatif untuk mendirikan Dompet
Sosial Ummul Quro (DSUQ) yang bertujuan mengelola dana umat dari
zakat,
infaq, shodaqoh dan wakaf secara lebih profesional dengan
menitikberatkan program pendidikan, kesehatan, pembinaan komunitas dan
pemberdayaan ekonomi sebagai penyaluran program unggulan . DSUQ inilah
yang kemudian hari bertransformasi menjadi Rumah Zakat Indonesia.

Pantas
bagi kita untuk menaruh harapan besar pada pasangan ini untuk dapat
menjadi pengusung perubahan bagi ibukota Jawa Barat yang semakin hari
semakin semrawut dengan segala masalahnya. Tentunya tidak sekedar
menaruh harapan kemudian menonton perkembangan yang terjadi. Kemenangan
tidak akan datang dengan sendirinya. Butuh aksi dan kontribusi riil
dari kita semua agar perubahan dikota bandung dapat terwujud. Langkah
paling dekatnya adalah bergabung dengan barisan pendukung
Taufikurahman-Abu Syauqi dan berkontribusi dengan apapun yang kita
punya. Maka dari itu saya menyatakan siap untuk memberdayakan blog ini
semaksimal yang saya bisa untuk mengkampanyekan pasangan ini. SAYA
MENDUKUNG TAUFIK-ABU SYAUQI, BAGAIMANA DENGAN ANDA?

    

Trendi: Kami Tak Akan Hamburkan Uang Selama Kampanye

June 23rd, 2008 by abu-syauqi

Bandung - Bukan rahasia lagi, jika ajang kampanye selalu menghabiskan dana yang tak sedikit. Selain dana dari partai dan pendukung, para calon yang ikut berlaga pun harus mengeluarkan dana yang tak sedikit. Pasangan Trendi yang diusung PKS dan empat parpol lainnya bersepakat tidak akan menghamburkan dana pada saat kampanye.

Calon wakil walikota Deni Triesnahadi atau lebih dikenal dengan nama Abu Syauqi menuturkan dirinya akan menyumbang dana sebesar Rp 125 juta dari koceknya pribadi. "Kami sudah sepakat tidak akan menghamburkan uang pada saat kampanye nanti, karena masih banyak yang lapar di luar sana," ujarnya di sela-sela pendaftaran ke KPU Bandung, Jalan Soekarno Hatta, Senin (23/06/2008).

Hal tersebut diamini oleh calon walikota Taufikurahman. Dia mengaku belum mengeluarkan dana sepeser pun untuk keperluan Pilwalkot mendatang.

"Dari 15 juta tabungan yang saya miliki, saya belum keluarkan sepeser pun. Agak malu juga sih, karena selama ini saya selalu didukung oleh teman-teman di partai," ujarnya.

Dia mencontohkan bantuan dari partai mulai dari pembuatan stiker dan spanduk yang bergambar dirinya.

Sementara itu Ketua DPD PKS Bandung Haru Suandharu menyatakan sumbangan dari pasangan tersebut bukan lah mahar untuk partai. "Kami tidak mewajibkan calon harus memberikan mahar kepada partai. Sumbangan itu bukan mahar tetapi infak," tandasnya.

Pada kesempatan itu, Ketua KPU Bandung Beni Mustofa mengatakan bahwa pasangan calon tidak boleh menerima sumbangan dana dari pihak asing dan BUMN ataupun BUMD. Pasangan pribadi pun dibatasi hanya Rp 50 juta dan perusahaan Rp 300 juta.(ern/ern)

PKS Pilih ‘Trendi’ untuk Pilwalkot Bandung

June 23rd, 2008 by abu-syauqi

Bandung - Tampaknya singkatan nama pasangan pada saat Pilkada menjadi mutlak. Seperti pasangan yang diusung oleh PKS Taufikurahman-Deni Triesnahadi yang mempersingkat namanya menjadi Trendi.

Deni Triesnahadi selama ini lebih dikenal dengan nama Abu Syauqi, pendiri Rumah Zakat Indonesia (RZI). Namun untuk ajang Pilwalkot ini, Abu memakai nama aslinya.

Ketua DPD PKS Kota Bandung Haru Suandharu mengatakan nama Trendi baru disepakati sesaat sebelum datang ke KPU. "Ini atas kesepakatan teman-teman, biar lebih mudah mengingat dan mengucapkannya," ujarnya di sela-sela pendaftaran calon ke KPU Bandung, Jalan Soekarno Hatta, Senin (23/06/2008).

Tiga ratusan pendukung pasangan Trendi ini terus meneriakkan yel-yel dukungan kepada pasangan yang usianya masih 40-an ini. "Tredi pasti menang! Pilih Trensi untuk perubahan kaum muda," teriak massa.

Pasangan Trendi ini adalah pasangan ketiga yang mendaftar ke KPU Bandung. Sebelumnya pasangan yang diusung Golkar-PDIP, Dada Rosada-Ayi Vivananda dan calon independen Hudaya Prawira-Nahadi. Kedua pasangan belum melansir nama singkatan mereka.(ern/ern)

PKS Sanding Abu Syauqi karena Popularitas dan Netralitas Calon

June 22nd, 2008 by abu-syauqi

Detik Bandung - Setelah pada awalnya sudah hampir berkoalisi dengan PDIP, kemudian merapat dengan Koalisi Poros Tengah dan PAN, akhirnya PKS memilih single fighter dalam Pilwalkot Bandung Agustus mendatang. Popularitas dan netralitas menjadi alasan PKS memilih Abu Syauqi, tokoh Bandung menjadi calon wakil walikota.

"Dilihat dari aspek popularitas dan netralitas Abu Syauqi, akhirnya kami memilihnya. Apa yang telah dilakukannya, masyarakat sudah tahu. Dia sebagai pendiri rumah zakat Indonesia dan juga ketua ikatan dai Indonesia," ujar Ketua DPD PKS Kota Bandung Haru Suandharu, usai deklarasi pasangan Taufikurahman-Abu Syauqi di GOR C’tra, Jalan Cikutra, Minggu (22/06/2008).

Ketika ditanya peluang PKS memenangkan Pilwalkot mendatang, mengingat PKS hanya maju sendiri, Haru menyatakan optimis. "Melihat konstelasi politik sekarang ini, kami masih optimis," katanya.

Dengan adanya dua kandidat lain yang menjadi pesaing, Haru menyatakan hal itu akan membuka peluang besar bagi PKS untuk memenangkan Pilwalkot. "Bisa dilihat dari dukungan masyarakat yang menginginkan perubahan besar," ujarnya.

Haru menambahkan sebelum akhirnya memilih Abu Syauqi, PKS sempat melakukan komunikasi yang alot dengan PAN. Namun tidak mencapai kesepakatan dari para calon yang diajukan kedua belah pihak. "PAN punya lima calon yang diajukan dan kita tiga. Semuanya tidak ada yang kami sepakati," ungkapnya.(ern/ern)