Produktifitas, Identitas Bangsa yang lama terpendam

Penggalan awal

surat

Al Mu’minun merupakan kalimat-kalimat yang luar biasa dahsyat (yang
setiap kita sangat mungkin menilai dan memaknainya berbeda, termasuk
saya). Dikupas dalam ayat-ayat mulia itu tentang sungguh berun­tung,
sungguh menang, sungguh sukses orang-orang yang beriman atas
produktivitas yang dijalaninya.

 

 

 

Seperti
apakah rupanya orang-orang ber­iman ini? Adalah mereka yang
mendapat­kan energi produktivitas dalam sholat-sholat yang
didirikannya. Sholat menjadi utama karena dari rangkaian sholat ini
Rasulullah saw dan para shahabat serta tabiin dan salafusholeh
mendapatkan rehat dari kompleksitas dunia yang tengah dija­laninya.
Maka bekerja, berbuat, melaku­kan, semuanya memenuhi kriteria
produk­tivitas.

 

 

 

Banyak
dari kita yang sering terpaku pada statement yang menyatakan bahwa
seper­tiga kekayaan dunia ada di tangan segelin­tir orang saja.
Pemahaman akan kalimat ini seringnya menjadi penghambat pro­duk­tivitas
mereka yang belum mendapat suntikan vaksin produktivitas, yang bisa
didapatkannya dari pelaksanaan sholat yang khusyu. Khosyi’un yang
disebut da­lam ayat kedua QS. al-Mu’minun maknanya bukan hanya
melibatkan pikiran, melain­kan menjadikan sholat sebagai rangkaian
dialog dengan Sang Penggenggam jiwa manusia.

 

 

 

Ketika
khusyu telah didapat, maka momen­tum duduk diantara dua sujud pun akan
menjadi detik-detik yang teramat sangat berharga, pada intinya menjadi
energi untuk produktif. Dalam jenak duduk di antara sujudnya seorang
mu’min sejati akan menjiwai skenario peran yang ia mainkan dengan
meyakini bahwa: Allah akan mengampuni, Allah akan menyaya­ngi, Allah
akan memenuhi segala (hajat), Allah akan memberi hidayah, dan Allah
akan menjadikan kaya – sejahtera.

 

 

 

Maka
sholat-sholat kita akan menjadi magnet dahsyat yang mendatangkan energi
untuk berbuat lebih banyak dalam kehidup­an. Tidak ada teladan yang
jauh lebih baik dibandingkan Rasulullah saw. Usai sholat-sholat Rasul
yang antara berdiri, ruku, dan sujudnya sama-sama panjang, ia
menyebarkan semangat produktivitas pada lingkungan sekitar. Strategi,
teknik manajemen, hingga visi tentang penyebar­an Islam hingga ke
berbagai belahan dunia menjadi produk manusia mulia ini didampingi
orang-orang mu’min lain yang meneladani sikap dan perilakunya.

 

 

 

Standar
dan parameter kejayaan Islam sebagai cermin pola produktivitas umatnya
terlihat hingga jauh setelah kepergian baginda Nabi. Sudahkah kita
menggali lagi harta Islam yang telah lama terpendam ini …?#

Leave a Reply